jump to navigation

Fatamorgana Samsara… (untuk IBU) 14 Februari 2014

Posted by sonirajatega in Blogging.
add a comment

Ibu1

Jika ada satu masa dimana Tuhan memberiku kesempatan makan malam terakhir dalam hidupku.
Aku ingin makan malam terakhir itu ditemani . . . IBU.

Karena Samsara hanya Fatamorgana
Maka… Cinta Ibu itu akan selalu bersenyawa
Tidak pernah terikat ruang dan masa
Walau raganya telah tiada

 

 

Love You, Mom.
Istirahatlah dengan Tenang

 

Anakmu…

‘Gerilya’ Java Jazz Festival 2013 4 Maret 2013

Posted by sonirajatega in Blogging, Event, Gigs, Music, Report.
Tags: , , ,
2 comments

Sabtu, 2 Maret 2013. Saya dapat kesempatan lagi untuk menyambangi event musik jazz skala internasional, Java Jazz Festival 2013. Sebuah Festival Jazz yang menghadirkan musisi-musisi jazz lokal dan mancanegara. Tercatat nama-nama seperti Dwiki Dharmawan, Oddie Agam, Indra Lesmana, Barry Likumahuwa, Idang Rasjidi, Tompi, Tohpati dan yang lainnya mengisi line up musisi lokal. Sedangkan line up yang mewakili musisi mancanegara ada Joss Stone, Lisa Stansfield, Basia, Craig David, Fourplay, Lee Ritenour, Jimmy Cliff, James Carter and many more.

Java Jazz Festival 2013

Saya datang pada hari kedua dari tiga hari jadwal penyelanggaraan Java Jazz 2013 kali ini. Hampir serupa dengan tahun kemarin, saya dapet free ticket lagi. Iya lah…kalo gak free mana mampu karyawan kerehore seperti saya nebus daily ticket concert seharga setengah juta…bisa gak makan sebulan masbero! Ok lanjut…sampe venue sekitar jam 7 malam, padahal acara dimulai dari sore, alhasil banyak line up yang saya lewatkan, gak apa-apa lah…toh tujuan utama saya dateng ke event ini cuma pengen lihat perform Lee Ritenour dan Fourplay, yang lainnya anggap aja sebagai bonus.

Setelah melewati ticketing gate, saya langsung merapat ke BNI Hall dimana Lee Ritenour and Dave Grusin tampil. Ternyata BNI Hall sudah penuh…wah telat nih, gak dapet spot didepan deh buat Lee Ritenour show. Tapi tak apa lah, yang penting masih bisa lihat mantan gitaris Fourplay ini live perform. Kelar lihat Lee Ritenour jadi bingung mau ke stage mana lagi, muter-muter Java Jazz booth aja deh sambil cuci mata mantengin SPG Djarum…hehehe!

Lee Ritenour at Java Jazz Festival 2013

Lelah keliling booth area, saya pun langsung merapat ke Telkomsel Simpati Hall. D’Masiv Jazz Project sedang perform disana, D’Masiv lumayan apik juga bawain lagu-lagu hits-nya dengan aransemen yg lebih jazzy. Lalu saatnya menuju BNI Hall kembali, ada Marcus Miller show disana. Marcus Miller selesai, lanjut ke Tebs Hall ada Balance and The Traveling Sounds lagi tampil, asyik juga nih band bawain jazz dibalut dengan aroma Hip-Hop. Dan lanjut ‘gerilya’ ke stage-stage lainnya.

Fisik udah sedikit drop, tapi antrian untuk Fourplay show udah mengular di Telkomsel Simpati Hall. Saya putuskan ikut antri sekalian rehat sebentar. Setelah antri sekitar 30 menit, pintu Telkomsel Simpati Hall pun dibuka. Serbuuuu! Audience pun pada rebutan tempat duduk. Akhirnya dapet spot kursi dibaris ketiga dari depan untuk Fourplay Show…yihaaa! Kemeja Batik menjadi dress code Fourplay malam itu, kecuali gitaris Chuck Loeb yg mengenakan Polo Shirt hitam. Bob James dan kawan-kawan tampil apik sepanjang pertunjukan dengan track-track yang tidak asing lagi ditelinga, Bahkan pada pada encore Bassist Nathan East mengajak semua audience untuk standing dan dance bersama. Rasa penasaran saya terhadap Fourplay pun terbayar lunas dengan penampilan memukau mereka.

Fourplay at Java Jazz Festival 2013

Ada satu hal yang saya sesalkan pada event Java Jazz kali ini. Saya gak bisa menyaksikan perform Ginda & The White Flowers, band asal Sukabumi yang main di Java Jazz Stage dikarenakan jadwal perform mereka yang bentrok dengan Fourplay show. Pilihan berat juga sih, disatu sisi pengen lihat wakil Sukabumi tampil di-event internasional sekelas Java Jazz, disisi lain show Fourplay mungkin jadi moment sekali seumur hidup bagi saya dan sayang kalau sampai dilewatkan.

Keluar dari Telkomsel Simpati Hall tidak terasa waktu sudah menunjukan Jam 1 malam. Terlihat kelompok orang mulai berjalan meninggalkan arena JIExpo tempat dimana jadi perhelatan event Jazz Internasional ini berlangsung. Setelah istirahat sejenak saya pun ikut beranjak meninggalkan venue untuk kembali pulang membelah jalanan ibukota tengah malam…See yaa Java Jazz Festival!!!

*semoga java jazz tahun depan dapet tiket gratis lagi… :mrgreen:

The Kuya’s: Music Jam Kaskuser Regional Sukabumi (Session One) 15 November 2012

Posted by sonirajatega in Band, Blogging, Kaskus, Music, Sukabumi.
Tags:
add a comment

Akhir-akhir ini semangat nulis lagi sedikit anjlok, jauh dibawah standar rate nulis seorang sonirajatega yang update blognya bisa sampai 3 artikel setiap hari . . . All hails! karena mood nulis lagi jelek tadi, saya memutuskan untuk copas aja deh biar ga ribet, yang penting ada update diblog ini. Untuk artikel kali ini lagi-lagi cuma bisa copas dari tulisan saya untuk sebuah FR (field report) Music Jam Kaskuser Regional Sukabumi (KERIS).

Minggu, 28 Oktober 2012, Music Jaming KERIS Session One bisa terlaksana juga. Sedikit mundur kebelakang, Jam Session Music KERIS ini sudah lama direncanakan, tapi selalu kandas ditengah jalan, dikarenakan krisis ekonomi yang melanda Eropa dan kesibukan rakjat KERIS terutama yang interest terhadap musik. Tetapi dengan semangat gabres ceria membara, walaupun rada ngadadak, persiapan minim dan dengan segala keterbatasan energi, waktu dll. akhirnya pasca nyate idul adha kita sepakat untuk ngejam.

Rundown jaming kali ini dimulai dengan kumpul briefing bahas materi jaming pada pukul 13:00 WIS (Waktu Indonesia bagian Sukaraja, red), tempatnya di Junker Room a.k.a Istana Kerajaan Kuya. Setelah beberapa guruhul manusia muncul, langsung terjadi perdebatan sengit antar personil untuk menentukan nama band maha ga penting seperti ini. Akhirnya semua sepakat ngasih nama The Kuya’s untuk mega project kali ini, sebuah nama band yang terdengar begitu menyedihkan dan kita pun ga tau apa makna dibalik nama itu.

Nama band udah ada dan prosesi briefing pun dilaksanakan dengan khidmat . . . skip! Briefing selesai pukul 15:30, pasukan langsung meluncur menuju studio Kecap Gan didaerah cipelang, sebelumnya studio telah dibooking 2 jam. Tepat pukul jam 16:00 para mujahid pun masuk arena eksekusi. Hellyeahhh!!!

Formasi:
Firman Rocker (Vocal)
Rivat (Bass, Vocal)
Maryz (Gitar, Vocal)
Soni (Gitar)
Egiw (Drum)
Ilham Gunadi (Sound Enginer, Dokumentasi)
Putra (Manajer, Producer)

Pada praktek dilapangan semua personel rolling main alat musik gantian, total 2 jam non stop maen musik ugal-ugalan, ajrut-ajrutan, jojorowokan. Puluhan puluhan setlist lagu mulai dari yang mellow sampai yang gahar habis dibantai. Tepat pukul 18:00 kita pun keluar studio dengan hati riang gembira. Dilanjutkan dengan prosesi pembubaran band, karena kami pikir band ga penting ini tidak punya masa depan, jadi lebih baik dibubarkan saja. Sebuah band yang berumur kurang dari 24jam. ironis!!!

Terima kasih banyak kepada semua teman-teman yang telah mendukung penuh event Jaming Music KERIS Session One ini. Mohon maaf apabila masih banyak kekurangan.
Sampai jumpa pada event jam session The Kuya’s Reuinion.

Salam Olahraga…

Best Regards,

 

The Kuya’s (R.I.P)

Rencana Berujung Wacana… 23 September 2012

Posted by sonirajatega in Band, Blogging.
4 comments

Berawal pada medio 2009. Pertama kali saya menapaki kehidupan baru di Jakarta, bekerja pada salah satu perusahaan swasta. Tidak bisa tidak saya pun harus beradaptasi dengan lingkungan dan juga teman-teman yang baru. Rutinitas kerja berjalan standar seperti individu pekerja pada umumnya. Bangun pagi masuk kerja, sore pulang istirahat malam tidur, pagi bangun lagi. Buat saya hal seperti itu cuma aktivitas pengulangan, yang pada akhirnya tujuan dari semua aktivitas yang dilakukan saya sebagai manusia adalah hanya untuk bertahan hidup. Tidak lebih!

Lalu saya berpikir ada beberapa hal yang harus saya lakukan untuk mengimbangi rutinitas hidup sebagai pekerja, yang menurut saya sangat monoton (kehidupan saya sebelumnya tidak lebih baik juga sih… :mrgreen: ). Sampai pada satu titik saya meyakini musik lah yang dapat membunuh rutinitas menyebalkan sebagai pekerja, juga bisa menghentikan laju kemonotonan hidup . . . Musik? Ya, maen musik. Briliant!

my gear*alat tempur sisa perang

Sedikit mundur kebelakang. Saya terakhir kali aktif maen musik saat masih jadi pendekar kampus, tepatnya dikota Bandung sekitar Tahun 2006-2007. Waktu itu energi brutal masih berkobar. Lalu datanglah sesosok makhluk manis manja bernama Skripsi mengganggu keharmonisan hidup, alhasil segala aktivitas cihuy sebagai mahasiswa rantau termasuk aktivitas bermusik pun bubar seketika. Semenjak tragedi itulah saya hanya jadi penikmat musik saja, bukan pelaku . . . Pakyu Skripsi!

Lupakan Skripsi edan eling. . . kita kembali pada Tahun 2009 masa awal dimana saya jadi pekerja. Ditempat kerja yang baru, saya ketemu kolega baru yang memiliki selera musik kurang lebih sama dengan saya. Singkat cerita kita pun sepakat menciptakan mesin pembunuh kemonotonan hidup pekerja. Sebuah mesin pembunuh dalam bentuk band berbahaya yang pernah diciptakan oleh pekerja-pekerja hilang kendali hidup . . . Keraaasss. :mrgreen:

Materi lagu telah disepakati, kita bawain lagu orang aja biar gampang nyonteknya. Setelah semuanya oke, kemudian muncul masalah krusial . . . ternyata band pembunuh ini susah dapetin personel lengkap. Waktu itu kita cuma bertiga, saya maen Gitar, Kozex maen Bass dan Aki-aki from Cianjur pada posisi Drum. Kesana-kemari nyari personel buat ngisi posisi Gitar dan Vokal susah banget, yang jadi penyebab susahnya dapet personel karena kita mau personel dari internal kantor biar gampang ngatur waktunya. Alasan lainnya mungkin karena musik yang kita maenin cukup idealis, jadi gak semua pemusik dikantor sudi untuk gabung dengan band ningrat aristokrat ini . . . hohoho!

Sejak pertengahan 2009 band terbentuk dan langsung memutuskan untuk vakum (band macam apa ini…!!!), kita tidak pernah sekalipun masuk studio, dengan alasan kurang personel. Aktivitas band ini cuma ngulik dan bahas materi aja. Sampai muncul sebuah pameo ‘Rencana Berujung Wacana’ untuk band pembunuh ini, karena cuma strategi perang doang yang diterapin tapi tak kunjung bergerilya. Walaupun tujuan utama project beracun ini cuma buat have fun aja, tapi kita ini individu-individu dengan komitmen gaspoll. :cool:

*sekumpulan individu berbahaya LOL

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun dilalui . . . Zzzzz! Sampai akhirnya pada awal 2012 ada sedikit pencerahan. Saya paksa temen kantor yang bernama Hanung untuk jadi Vokalis. Sejatinya si Hanung ini seorang Drummer, selera musiknya pun sedikit berbeda, tapi peduli setan pokoknya harus mau jadi Vokalis :evil: . . . Sedangkan diposisi Gitar ada Bebonx, masih temen sekantor juga. Masalah selera musik, si Bebonx masih nyambung lah dengan personel yang lain.

Formasi sudah komplit, band pembunuh akhirnya masuk studio juga setelah melewati masa resesi kurang lebih selama 3 Tahun. Dua materi awal didaulat jadi opening. Track milik As I Lay Dying – Through Struggle dan track milik Killswitch Engage – The End of Heartache. Selanjutnya ada track dari Seringai – Akselerasi Maksimum dan track milik Hatebreed – This Is Now melengkapi setlist distudio. Track Burgerkill dan beberapa track milik Killswitch Engage sedang dalam proses masuk setlist . . . hell yeah!!!

Finally . . . Saya dan teman-teman yang lain saat ini punya zat penawar kemonotonan rutinitas pekerjaan, sebuah mesin pembunuh pelepas energi negatif yang disebabkan oleh remeh-temeh urusan kantor. Berita baik lainnya, kita masih bisa memainkan musik yang kita suka ditengah kesibukan kerja dengan umur yang tidak lagi muda (ingat! bukan tua…). dan buat saya value dari dongeng tidak penting ini adalah: Rencana (tidak selalu) Berujung Wacana. #cheeersss

*skripsi itu memang menyebalkan…fakk!!!

A Farewell Manifesto: Membaca Gejala Dari Jelaga 13 Agustus 2012

Posted by sonirajatega in Blogging, MyMind.
Tags: , ,
6 comments

Tidak banyak kalimat yang saya keluarkan untuk postingan ini, karena ini hanya postingan copy paste. Ya, sebuah copas yang  lebih dari cukup untuk menjabarkan arti, nilai atau inti tulisan kali ini.  Adapun tulisan yang saya copas adalah sebuah lirik track Membaca Gejala Dari Jelaga milik Homicide salah satu band oldskool hiphop punk/hardcore favorit saya yang berasal dari Bandung, tapi cukup disayangkan juga karena pada tahun 2007 band ini telah resmi membubarkan diri. Mudah-mudahan pada lain kesempatan saya bisa me-review band ajaib ini.

Secara umum lirik lagu ini semacam tribute to yang bercerita tentang seseorang yang kehilangan sahabat, keluarga, teman, kawan atau orang yang dicintai, tapi yang membuat jadi holipakinsyitthing pada lirik ini adalah isi pesan yang disampaikan dalam rima yang tidak cengeng, malah cenderung kontroversial tapi sangat (tidak) sensasional. :mrgreen:

Tanpa banyak ba bi bu….here we go:


Membaca Gejala Dari Jelaga – Homicide

Matahari terlalu pagi mengkhianati
Pena terlalu cepat terbakar
Kemungkinan terbesar sekarang memperbesar kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan
Sehingga setiap orang yang kami temui tak menemukan lagi satupun sudut kemungkinan untuk berkata tidak mungkin
Tanpa darah mereka mengering
Sebelum mata pena berkarat dan menolak kembali terisi

Sebelum semua paru disesaki tragedi dan pengulangan menemukan maknanya sendiri
Dalam pasar, dalam limbah dan kotoran
Atau mungkin dalam seragam sederetan nisan
Kita pernah bernazar untuk menantang awan
Menantang langit dengan kalam-kalam terhunus
Hingga hari-hari penghabisan
Tanpa pretense apapun untuk mengharapkan surga dan neraka di atas semua…

Kita berangkat dengan rima dan kopi secawan
Berkawan dengan bentangan kalam yang menantang awan
Menggalang pijakan dari hulu waktu yang membidani zaman
Dimana microphone digenggam dengan hasrat menggantang ancaman
Mengkafani kawanan serupa lalat dari pusat pembuangan sampah
Bernazar membuat tiran berjatuhan
Menyisakan potongan kalimat profane berceceran
Dengan luka sayatan dari medan puputan
Kita tantang kutukan, kita kutuk pantangan
Sehingga setiap angan paralel dengan surga-neraka dan dalil langitan
Serupa komando yang keluar dari mabes hingga koramil
Serupa toxin yang berselancar pada darah sebelum maut menjemput Munir
Menyisir petaka yang membiarkan mereka menggadaikan pasir
Pada pantai, pada bumi, yang penuhi oleh barcode dan kasir
Yang menghibahkan filsafat pada vampire
Pada mereka yang melabeli setiap oponen dengan stempel kafir
Pada mereka yang datang pada malam terkelam
Saat cahaya hanya datang dari belukar di tengah makam
Kita pernah sisakan harapan yang esok siap cor menjadi belati
Pikulan beban yang serupa pitam yang kembali berhitung dengan mentari

Dengan tangisan bayi yang mengajarkan kembali bagaimana menari
Bagaimana mengingat janji dan mengepalkan jemari
Bagaimana seharusnya hari-hari berbagi api
Bagaimana menyulutnya pada nadi dan mengumpulkan nyali

Dan semua darah bertagih telah kita bayar lunas
Sejak kalimat angkara kita terlanjur menjadi lampiran kajian Lemhanas
Kau dan aku tahu pahlawan tidak lagi datang dari kurusetra
Namun dalam bentuk dominasi mie instant di tengah bencana
Sejak tanah basah ini menagih janji mata yang dibayar mata
Sejak mata sungai menagih suara mereka yang hilang di ujung desa
Sejak kebebasan hanya berarti di hadapan kotak suara
Sejak para ekonom memperlakukan nasib serupa statistik ramalan cuaca
Telah khatam kita baca semua analisa semua neraca
Semua melihat tai kucing yang membenarkan semua prasangka
Kita belajar membaca gejala dari jelaga
Pada malam-malam terhunus dan waras-waras kita terjaga
Memaksa tidur dengan satu kelopak mata terbuka
Menahan pitam tanpa riak serupa telaga
Serupa hasrat yang dipertahankan setengah mati tetap menyala
Pada setengah hidup kita mengalir mencari muara
Sehingga udara membutuhkan amis darah agar sirine tetap mengalun
Agar waras diingatkan wabah yang akut menahun
Tentang pagut yang santun
Yang memusuhi pantun
Yang membakar habis hasratmu setelah dipaksa dipasung
Mungkin kau akan ingat tentang petaka yang dalam hitungan kurun
Waktu singkat berubah menjadi rahmat
Merubah alam alam bawah sadar hingga terbiasa dengan mayat
Sekarang mengubahmu kasat di depan deretan kalimat
Bergabung dengan para mata yang terang bersama pekat

Serupa kepastian, serupa asuransi
Serupa janji yang memprediksi dimana kau suatu hari nanti dengan pasti
Sehingga semua pertanyaan kau tinggal mati
Sehingga rimaku hari ini dan terompet israfil dapat bertukar posisi
Dan menantang mentari

 

Akhirul kalam, saya lebih memilih untuk menjadi seperti apa yang diimajikan Chairil Anwar:

“Sekali Berarti, lalu mati”

a m o r f a t i

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: