jump to navigation

A Farewell Manifesto: Membaca Gejala Dari Jelaga 13 Agustus 2012

Posted by sonirajatega in Blogging, MyMind.
Tags: , ,
trackback

Tidak banyak kalimat yang saya keluarkan untuk postingan ini, karena ini hanya postingan copy paste. Ya, sebuah copas yang  lebih dari cukup untuk menjabarkan arti, nilai atau inti tulisan kali ini.  Adapun tulisan yang saya copas adalah sebuah lirik track Membaca Gejala Dari Jelaga milik Homicide salah satu band oldskool hiphop punk/hardcore favorit saya yang berasal dari Bandung, tapi cukup disayangkan juga karena pada tahun 2007 band ini telah resmi membubarkan diri. Mudah-mudahan pada lain kesempatan saya bisa me-review band ajaib ini.

Secara umum lirik lagu ini semacam tribute to yang bercerita tentang seseorang yang kehilangan sahabat, keluarga, teman, kawan atau orang yang dicintai, tapi yang membuat jadi holipakinsyitthing pada lirik ini adalah isi pesan yang disampaikan dalam rima yang tidak cengeng, malah cenderung kontroversial tapi sangat (tidak) sensasional.:mrgreen:

Tanpa banyak ba bi bu….here we go:


Membaca Gejala Dari Jelaga – Homicide

Matahari terlalu pagi mengkhianati
Pena terlalu cepat terbakar
Kemungkinan terbesar sekarang memperbesar kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan
Sehingga setiap orang yang kami temui tak menemukan lagi satupun sudut kemungkinan untuk berkata tidak mungkin
Tanpa darah mereka mengering
Sebelum mata pena berkarat dan menolak kembali terisi

Sebelum semua paru disesaki tragedi dan pengulangan menemukan maknanya sendiri
Dalam pasar, dalam limbah dan kotoran
Atau mungkin dalam seragam sederetan nisan
Kita pernah bernazar untuk menantang awan
Menantang langit dengan kalam-kalam terhunus
Hingga hari-hari penghabisan
Tanpa pretense apapun untuk mengharapkan surga dan neraka di atas semua…

Kita berangkat dengan rima dan kopi secawan
Berkawan dengan bentangan kalam yang menantang awan
Menggalang pijakan dari hulu waktu yang membidani zaman
Dimana microphone digenggam dengan hasrat menggantang ancaman
Mengkafani kawanan serupa lalat dari pusat pembuangan sampah
Bernazar membuat tiran berjatuhan
Menyisakan potongan kalimat profane berceceran
Dengan luka sayatan dari medan puputan
Kita tantang kutukan, kita kutuk pantangan
Sehingga setiap angan paralel dengan surga-neraka dan dalil langitan
Serupa komando yang keluar dari mabes hingga koramil
Serupa toxin yang berselancar pada darah sebelum maut menjemput Munir
Menyisir petaka yang membiarkan mereka menggadaikan pasir
Pada pantai, pada bumi, yang penuhi oleh barcode dan kasir
Yang menghibahkan filsafat pada vampire
Pada mereka yang melabeli setiap oponen dengan stempel kafir
Pada mereka yang datang pada malam terkelam
Saat cahaya hanya datang dari belukar di tengah makam
Kita pernah sisakan harapan yang esok siap cor menjadi belati
Pikulan beban yang serupa pitam yang kembali berhitung dengan mentari

Dengan tangisan bayi yang mengajarkan kembali bagaimana menari
Bagaimana mengingat janji dan mengepalkan jemari
Bagaimana seharusnya hari-hari berbagi api
Bagaimana menyulutnya pada nadi dan mengumpulkan nyali

Dan semua darah bertagih telah kita bayar lunas
Sejak kalimat angkara kita terlanjur menjadi lampiran kajian Lemhanas
Kau dan aku tahu pahlawan tidak lagi datang dari kurusetra
Namun dalam bentuk dominasi mie instant di tengah bencana
Sejak tanah basah ini menagih janji mata yang dibayar mata
Sejak mata sungai menagih suara mereka yang hilang di ujung desa
Sejak kebebasan hanya berarti di hadapan kotak suara
Sejak para ekonom memperlakukan nasib serupa statistik ramalan cuaca
Telah khatam kita baca semua analisa semua neraca
Semua melihat tai kucing yang membenarkan semua prasangka
Kita belajar membaca gejala dari jelaga
Pada malam-malam terhunus dan waras-waras kita terjaga
Memaksa tidur dengan satu kelopak mata terbuka
Menahan pitam tanpa riak serupa telaga
Serupa hasrat yang dipertahankan setengah mati tetap menyala
Pada setengah hidup kita mengalir mencari muara
Sehingga udara membutuhkan amis darah agar sirine tetap mengalun
Agar waras diingatkan wabah yang akut menahun
Tentang pagut yang santun
Yang memusuhi pantun
Yang membakar habis hasratmu setelah dipaksa dipasung
Mungkin kau akan ingat tentang petaka yang dalam hitungan kurun
Waktu singkat berubah menjadi rahmat
Merubah alam alam bawah sadar hingga terbiasa dengan mayat
Sekarang mengubahmu kasat di depan deretan kalimat
Bergabung dengan para mata yang terang bersama pekat

Serupa kepastian, serupa asuransi
Serupa janji yang memprediksi dimana kau suatu hari nanti dengan pasti
Sehingga semua pertanyaan kau tinggal mati
Sehingga rimaku hari ini dan terompet israfil dapat bertukar posisi
Dan menantang mentari

 

Akhirul kalam, saya lebih memilih untuk menjadi seperti apa yang diimajikan Chairil Anwar:

“Sekali Berarti, lalu mati”

a m o r f a t i

Komentar»

1. muftiportgas - 14 Agustus 2012

Reblogged this on Mufty's blog and commented:
ah dah gak kerasa dah maw seminngu lagi maw lebaran aja,,,rencananya sih maw mudik tapi kurang taw mudik apa nggak tapi mudah-mudahan aja mudik tahun ini bisa bertemu keluarga dikampung dan bisa berziarah ke makam kakek dan nenek,,,pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan pada pengguna blog selamat menunaikan ibadah puasa dan selamat idul fitrin 1433 h mohon maaf lahir dan batin

2. ArisFR - 14 Agustus 2012

Reblogged this on arisfr.

3. ceritaminimagazine - 15 Agustus 2012

mikir juga baca post ini mas, padat dan melayangkan imajinasi…^_^

sonirajatega - 15 Agustus 2012

hehehehe😀
terlalu kental dengan metafora ya mas

ceritaminimagazine - 16 Agustus 2012

yupz….heheee…. terus ditunggu karya2 berikutnya…

sonirajatega - 18 Agustus 2012

siyap mas…

terima kasih udah berkunjung😀

4. Jim - 18 Oktober 2015

termakasih infonya, visit blog dofollow saya juga ya gan🙂 , Abeje


Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: